Anak-anak muda itu tampak bersemangat ketika menyaksikan tim sepakbola kesayangan mereka melakukan aksi heroik di lapangan. Penonton di bangku depan bersorak sambil sesekali berkomentar; “oper bolanya..”, teriaknya dengan semangat. Penonton disebelahnya tidak mau kalah membalas komentar tersebut, “tidak, langsung terobos ke gawang lawan”, dan komentar tambahan lain yang tak kalah seru terus di timpali oleh yang lainnya. Beginilah umumnya ulah para penonton sepakbola. Dalam memberikan ulasannya, para komentator sering merasa sudah berada langsung di lapangan. Padahal apa yang terjadi di atas lapangan rumput sangatlah ber- beda dengan apa yang disaksikan dari bangku penonton manapun. Para pemain di lapangan rumput menggerakkan seluruh tubuh, jiwa dan raganya dalam usaha memainkan bola, sedangkan para penonton yang menggunakan indera penglihatannya, sering sudah “merasa” ahli di atas lapangan. Padahal eksistensi keduanya sangat berbeda.

Ketika seorang anak belajar bersepeda, pekerjaan itu nampak begitu mudah ketika di lakukan oleh anak yang lain. Memang prinsip utamanya hanya mengayuh 2 sadel sepeda sebagai penggeraknya dan menggunakan stang sebagai penyeimbang, serta mengarahkan jalannya sepeda, sangat mudah teorinya. Namun hal ini tidak mudah bagi siapapun yang pertama kali bersepeda, dan pada umumnya jatuh bangun terjadi sebelum akhirnya berhasil melaju sepedanya dengan baik. Bahwa ada peran tubuh dalam menjaga keseimbangan dan ternyata sangat diperlukan. Saya tidak bermaksud mengkritik para komentator atau mengajari cara bermain sepeda. Penggalan cerita diatas adalah gambaran perbedaan antara seorang pengamal dan pengamat.

Melalui penulusuran sebuah kamus, pengamat memiliki definisi orang yang meneliti, orang yang mengawasi. Sedangkan arti pengamal adalah orang yang melaksanakan atau menerapkan suatu gagasan (doktrin, falsafah); pelaksana, penerap. Kedua kata tersebut memiliki arti yang berbeda, walaupun dalam hal susunan kata dan pengucapannya memiliki kemiripan.

Seorang pengamat mampu menceritakan isi dari obyek yang diamatinya. Proses ‘mengetahui’ tersebut datang dari hasil observasi atau pengamatan melalui indera mata yang tersambung ke dalam otak, sehingga menjadi proses berfikir. Sensasi inilah yang menjadi dasar pengolahan pengetahuannya sehingga ia mampu bercerita tentang hasil pengamatan tersebut. Lain halnya dengan seorang pengamal, ia berjalan diatas sebuah proses ‘pengetahuan’. Maksud berjalan disini ialah menggerakkan seluruh indra yang ada pada tubuhnya, jiwa dan raga, lahir serta batinnya tercurahkan dalam proses melakukan aktivitasnya. Sebuah proses bergerak yang tidak hanya dilakukan dengan mata dan disalurkan kedalam otak, namun dengan seluruh indera pada anggota badannya yang bersumber dari hati. Ia merasakan dan memahami seluk beluk obyek yang dia kerjakan melalui sebuah proses yang di alaminya langsung, baik aktif maupun reaktif.

Islam menawarkan sebuah konsep hidup yang mencakup tata-cara penanganan berbagai komponen kehidupan. Agama yang di sampaikan melalui tuntunan Nabi Mu- hammad SAW menjanjikan jalan keselamatan bagi para penganutnya, bahkan seluruh alam ini. Hal ini tertuang dalam firman Allah:

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Lalu dimanakah posisi kita sebagai penganut agama Islam dalam menjalani konsep tersebut? Mari kita simak kejadian dibawah ini

Diriwayatkan dari Aisyah, Ummul mukminin ra.dia berkata; Awal mula wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW berupa mimpi yang benar. Ketika itu Rasulullah SAW mendapatkan mimpi yang benar seterang cahaya pagi, kemudian beliau senang berkhalwat (menyepi). Beliau berkhalwat di gua Hira untuk beribadah selama beberapa malam sebelum beliau kembali kepada keluarganya. Rasulullah SAW membawa perbekalan makanan untuk berkhalwat, lalu beliau pulang menemui Khadijah untuk mengambil perbekalan lagi, sehingga ketika berada di dalam gua Hira beliau tiba-tiba mendapat wahyu.

Beliau didatangi malaikat yang mengatakan “Bacalah!” Rasulullah SAW menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Kata Rasulullah SAW: “Lalu malaikat itu memelukku keras- keras sehingga nafasku terasa sesak, kemudian dia melepaskanku, lalu dia katakan lagi, “Bacalah!” Aku menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Dia memelukku lagi lagi (kedua kalinya) dengan keras sehingga nafasku terasa sesak, lalu dia melepaskanku, kemudian dia membacakan, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang maha pemurah”, (QS.Al-Alaq: 1-3)

Kemudian Rasulullah SAW pulang membawa wahyu dengan hati yang penuh ketakutan. Beliau menemui Khadijah binti Khuwaylid RA, Kata beliau, “Selimutilah aku! Selimutilah aku”. Maka keluarga Nabi SAW Menyelimuti beliau sehingga rasa takut beliau hilang.

Penggalan kejadian ini merupakan perenungan awal akan makna agama Islam yang sesungguhnya. Karena kejadian ini merupakan awal pertama beliau menjalankan tugasnya sebagai Rosul Allah. “Bacalah”, perintah pertama Allah SWT kepada Rosulnya melalui perantara malaikat Jibril. Apa sebenarnya maksud dari perintah ini, apakah saat itu Rasulullah SAW di perintahkan untuk membaca bentuk tulisan? Padahal saat itu Al Qur’an belum turun seluruhnya, apalagi dalam bentuk kitab yang bisa dibaca dengan mata jahir seperti sekarang ini. Belum lagi sejarah yang mencatat bahwa Rasulullah SAW saat itu tidak pandai baca dan tulis. Jadi apa yang di baca?

Perintah tersebut dijelaskan lebih dalam dalam ayat berikutnya

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! dan Tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengajarkan dengan perantara qalam. Mengajarkan kepada manusia yang tidak ia ketahui”.

Ayat ini merupakan awal tabir pembuka pengenalan mahluk manusia kepada sang pencipta, Tuhan yang menciptakan manusia dari segumpal darah, Tuhan yang maha pemurah, Tuhan yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui. Yang perlu kita cermati disini adalah perintah kerja yang digunakan pada kejadian tersebut. Pada umumnya, banyak yang memahami ayat ini sebagai sebuah perintah membaca, dengan makna membaca literatur dalam mencari ilmu pengetahuan, menghapal dan cukup sampai disitu. Sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh mata dan di olah dengan otak dan cukup hanya untuk diketahui tanpa di amalkan. Ini tidak salah, namun rasanya bukan ini inti utama dari perintah tersebut. Ayat tersebut merupakan sebuah seruan membaca dengan cara menyebut nama Tuhan yang menciptakan; Allah SWT. Sebuah makna seruan yang bukan hanya bersifat seremonial pengamatan, namun lebih kepada penyebutan yang dilakukan oleh diri sendiri (didalam hati) terhadap nama Tuhan, Allah SWT. Jelas ini sebuah perintah pengamalan untuk menjazam-kan keyakinan Rasulullah pada saat itu, yang merupakan awal proses dari keimanan beliau. Dan ini berlaku pula untuk kita, selaku umat yang meyakini serta mengikuti arahan Rasulullah SAW.

Selanjutnya ayat tersebut menegaskan bahwa hanya Allah lah yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui, yang disampaikan (diajarkan) melalui perantara qalam. Ilmu yang hakikatnya di sampaikan oleh yang Maha Hidup (Hayat), Allah SWT. Dan melalui Sabda Rasulullah SAW, beliau juga menjelaskan bahwa: “Siapa yang mengamalkan ilmunya yang sedikit, maka Allah akan menambahkan ilmu yang belum pernah di ketahui sebelumnya”
Bahkan Rasulullah SAW telah memperingatkan agar kita mengamalkan ilmu yang sudah diketahui (dipelajari), beliau bersabda:
“Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan; tentang hartanya darimana ia peroleh dan ke mana ia habiskan; dan tentang tubuhnya capek dan’ letihnya-untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi)

Islam adalah sebuah konsep kehidupan yang harus di jalani dalam setiap ruangnya. Ia bukan sekedar pakaian ritual dengan berbagai macam atribut dan simbolnya. Konsep rahmatan lil alamin yang di usung tidak terbatas pada atribut-atribut simbolis yang kerap terjadi pada kebanyakan sekarang. Sejatinya, Islam adalah konsep kehidupan yang riil melalui proses pengamalan, sebuah konsep nyata sebagai jalan keselamatan bagi penganutnya yang menjalani. Apalagi kesempurnaan konsep islam sudah di tegaskan Allah SWT, yang tertuang dalam Al Qur’an:
“… Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu ….” (Q.S. Al Maidah:3)

Islam jelas menekankan penganutnya untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah diketahuinya, bukan sekedar menghafal dan berucap, tetapi di jazamkan melalui hatinya dan disalurkan ke seluruh tubuh, proses pengamalan seutuhnya. Tentunya kita harus lebih dahulu memaknai hakikat (kebenaran) dari konsep itu sendiri dengan proses percaya (iman) yang di dasari dari hati yang terdalam. Memaknai dengan menjalani sebuah proses ke berserah-dirian dalam arti yang sebenar-benarnya.

Oleh karena itu perlu kita sadari bahwa sangat jauh berbeda posisi seorang pengamat dan pengamal. Apakah cukup hanya menjadi pengamat? Yang di baca tanpa mengetahui maknanya, atau yang di ketahui maknanya namun tidak amalkan. Padahal Allah SWT telah mengingatkan bahwa adanya perbedaan antara kata dan realita adalah sesuatu yang berbahaya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Shaff ayat 2 dan 3:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Dimana saat ini lebih banyak orang yang merasa benar dari pada yang merasa berdosa, dan banyak mereka yang berkata-kata dengan ilmunya namun kosong dalam pengamalannya. Sejatinya, setiap firman yang di wahyukan Allah SWT merupakan pesan kepada setiap orang yang beriman, dan umat manusia. Pesan yang wajib kita baca dengan makna yang sebenarnya, yaitu sebuah bentuk pengamalan melalui jiwa dan raga, lahir dan bathin, hingga kita sampai pada tujuan Al-Islam yang sebenarnya:  “Dan tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali un- tuk menyembah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyaat: 56)

Oleh: Maulana Syarif Alam

By | 2017-09-04T05:24:05+00:00 September 4th, 2017|Tausiyah|0 Comments
ThumbSniper-Plugin by Thomas Schulte